Ogoh - Ogoh STT. Karna Waja, Banjar Wongaya Kaja, Desa Wongaya Gede, Penebel,dengan judul "Nyapa Kadi Aku"

“Nyapa Kadi Aku”: Kritik Pedas untuk Pemimpin

RedaksiSeputar BaliBudaya02/02/2025328 Views

Tabanan, Nikiberitabali.com – Menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1947, STT. Karna Waja, Banjar Wongaya Kaja, Desa Wongaya Gede, Penebel, kembali berpartisipasi dalam Lomba Ogoh-Ogoh Kabupaten Tabanan 2025. Karya mereka yang bertajuk “Nyapa Kadi Aku”menjadi sorotan utama, tidak hanya karena keindahan visualnya, tetapi juga karena pesan moral yang mendalam yang terkandung di dalamnya.

“Nyapa Kadi Aku” merupakan sebuah narasi yang menggambarkan sisi gelap manusia, atau dalam filosofi Hindu dikenal sebagai **Awidya**. Sifat-sifat negatif seperti kejam, iri hati, dengki, sombong, dan keserakahan akan harta, tahta, serta kekuasaan, dapat menguasai diri seseorang, terutama seorang pemimpin. Jika tidak dikendalikan, sifat-sifat ini dapat menimbulkan tindakan sewenang-wenang dan otoriter, yang pada akhirnya merugikan masyarakat.

Karya ogoh-ogoh ini menjadi simbol peringatan bagi para pemimpin untuk selalu melakukan introspeksi diri, melebur sifat-sifat negatif, dan menjadi pemimpin yang lebih baik bagi masyarakat. “Kami ingin menyampaikan pesan bahwa setiap pemimpin harus mawas diri dan tidak terjerumus dalam sifat Awidya,” ujar Yusa Prayoga, Ketua STT. Karna Waja, Banjar Wongaya Kaja, Minggu (02/02/2025).

Banjar Wongaya Kaja terletak di Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Lokasi ini berada di kaki Gunung Batukaru, salah satu gunung tertinggi di Bali yang terkenal dengan keindahan alamnya dan aura spiritual yang kental. Lingkungan yang asri dan budaya yang masih kental membuat Banjar Wongaya Kaja menjadi salah satu pusat kegiatan seni dan tradisi di Tabanan.

Lomba Ogoh-Ogoh Kabupaten Tabanan 2025 menjadi ajang yang dinantikan oleh masyarakat Bali, khususnya di Tabanan. Selain sebagai bagian dari ritual menyambut Hari Suci Nyepi, lomba ini juga menjadi wadah untuk mengekspresikan kreativitas dan nilai-nilai budaya.

STT. Karna Waja, Banjar Wongaya Kaja, telah mempersiapkan diri dengan matang. Arsitek ogoh-ogoh, Indra Sanjaya, merancang karya ini dengan detail yang memukau. Selain ogoh-ogoh, persiapan juga melibatkan gamelan baleganjur dan fragmen tari yang menambah kesan dramatis dalam penampilan mereka.

Untuk gamelan baleganjur mereka berkolaborasi dengan komunitas Kawiswara Wongaya Gede yang beranggotakan pemuda dari 4 Banjar yang ada di wilayah Desa Wongaya Gede.

“Kami telah mengalokasikan dana sekitar 27 juta rupiah untuk persiapan lomba ini. Dana tersebut berasal dari kas STT sendiri,”jelas Kumaradana, Ketua Panitia. Meskipun biaya yang dikeluarkan cukup besar, sekitar 20 juta rupiah, tim ini optimis dapat memberikan penampilan terbaik dan meraih hasil yang memuaskan.

Melalui ogoh-ogoh “Nyapa Kadi Aku”, STT. Karna Waja, Banjar Wongaya Kaja, berharap dapat menginspirasi masyarakat, terutama para pemimpin, untuk selalu melakukan refleksi diri. “Kami ingin mengingatkan bahwa sifat Awidya ada dalam diri setiap orang, termasuk pemimpin. Oleh karena itu, penting untuk selalu mawas diri dan berusaha menjadi lebih baik,” tambah Yusa Prayoga.

Lomba Ogoh-Ogoh Kabupaten Tabanan 2025 tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga sebagai sarana untuk melestarikan budaya dan menyampaikan pesan moral kepada masyarakat. Dengan lokasi Banjar Wongaya Kaja yang berada di kaki Gunung Batukaru, karya ini juga menjadi simbol harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas. (jk)

4 Votes: 4 Upvotes, 0 Downvotes (4 Points)

Loading Next Post...