
DENPASAR, Nikiberitabali.com — Sanggar Seni Tri Datu dari Desa Seraya Barat, Karangasem, tampil memikat di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Denpasar, Rabu (16/7), melalui pergelaran Genjek bertema Kenakalan Remaja. Lewat irama yang komunikatif dan lirik yang menyentuh, mereka menyampaikan pesan moral tentang pentingnya generasi muda menjaga diri dari pergaulan menyimpang.
Genjek sendiri merupakan kesenian rakyat Bali yang lahir secara spontan dari masyarakat bawah. Popularitasnya tumbuh karena mampu menyajikan kritik, pujian, hingga sindiran sosial dengan cara sederhana namun sangat komunikatif. Bagi masyarakat Bali, berkesenian adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Genjek pun berkembang menjadi media ekspresi imajinasi kaum muda, diiringi ritme yang khas, dan lirik-lirik jejangeran yang relevan dengan realitas sosial.
Ketua Sanggar Seni Tri Datu, I Komang Nisma, menjelaskan bahwa tema Kenakalan Remajadipilih untuk menyoroti fenomena pergeseran perilaku anak muda yang mulai menyimpang akibat pengaruh zaman. Dalam kisahnya, diceritakan keindahan Taman Soekasada Ujung dan Taman Tirta Gangga yang ternodai oleh ulah sekelompok remaja nakal: mabuk-mabukan, mengisap narkoba, dan berjudi hingga membuat kegaduhan. Masyarakat Seraya pun geram dan melaporkan mereka kepada pihak berwajib hingga akhirnya para remaja itu menyadari kesalahan, bertobat, dan berjanji memperbaiki diri.
Menariknya, sebagian besar seniman yang terlibat dalam pagelaran ini adalah anak-anak muda. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata bahwa seni dan budaya Bali tetap hidup dan diwarisi di tengah arus globalisasi yang sering dianggap menjauhkan generasi muda dari akar tradisinya. Para seniman muda ini membantah anggapan bahwa pemuda Bali lupa pada seni budaya, justru menunjukkan bagaimana nilai-nilai warisan leluhur tetap relevan sekaligus adaptif terhadap zaman.
Pergelaran ini sejalan dengan tema Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 tahun 2025, Jagat Kerthi Lokahita Samudaya, yang bermakna harmoni semesta raya: harmoni dalam hati, dengan alam, sesama, dan Sang Pencipta. “Syair-syair petuah yang kami lantunkan bertujuan membentengi generasi muda dari pergaulan menyimpang,” ujar Komang Nisma.
Penampilan Genjek semakin hidup dengan iringan instrumen tradisional seperti grantang, kenang, ceng-ceng, gong pulu, suling, hingga gambelan penting, menghasilkan perpaduan nada yang indah namun sarat makna.
Pergelaran Sanggar Seni Tri Datu ini sekali lagi membuktikan, di tangan para seniman muda desa, seni bukan sekadar hiburan, melainkan juga media edukasi, perenungan, dan bukti bahwa pelestarian budaya terus berjalan dari generasi ke generasi. (jk)