
Denpasar, Nikiberitabali.com – Tradisi pawai ogoh-ogoh di Bali tidak hanya menjadi ajang kreativitas seni, tetapi juga sarana menyampaikan kritik sosial yang tajam. Salah satu karya yang menarik perhatian tahun ini adalah “Tuding Tujuh,” sebuah ogoh-ogoh yang mengangkat kisah dari epos Mahabharata dan menggambarkan kebutaan moral, keserakahan, serta manipulasi dalam dunia politik dan kepemimpinan.
Karya ini lahir dari tangan-tangan kreatif Sekaa Teruna Yowana Samhita Dharma, Banjar Balun, Pemecutan Kaja, Denpasar Utara, di bawah kepemimpinan Nyoman Gede Sumahendradana. Dengan arsitektur yang dirancang oleh Gede Agus Putra, ogoh-ogoh ini mulai dikerjakan sejak September 2024 dan menelan biaya sekitar Rp30 juta.
Makna “Tuding Tujuh” dalam Budaya Bali
Dalam bahasa Bali, “Tuding Tujuh” memiliki makna menunjuk atau menuduh, dengan simbol jari telunjuk yang berada pada posisi angka tujuh. Istilah ini tidak hanya menggambarkan tindakan fisik, tetapi juga memiliki makna simbolis terkait kepemimpinan dan kewenangan.
Karya ogoh-ogoh ini merepresentasikan tiga tokoh utama dalam Mahabharata: Raja Drestarata, Duryodhana, dan Sangkuni. Setiap karakter menggambarkan fenomena yang masih relevan di dunia nyata—pemimpin yang buta akan kebenaran, penguasa muda yang haus kekuasaan, serta penasihat licik yang mempermainkan situasi demi kepentingan pribadi.
Kritik terhadap Kepemimpinan dan Politik
Dalam ogoh-ogoh “Tuding Tujuh,” Raja Drestarata digambarkan duduk di singgasananya, melambangkan seorang pemimpin yang kehilangan kendali atas kekuasaannya. Kebutaannya bukan hanya fisik, tetapi juga moral, membuatnya menjadi alat bagi orang-orang di sekitarnya.
Di atas bahunya berdiri Duryodhana, putra yang sejak kecil terobsesi dengan kekuasaan. Ia menginjak tubuh ayahnya, simbol dari bagaimana seorang pemimpin bisa terperangkap dalam kasih sayang buta terhadap keturunannya hingga melupakan keadilan.
Sementara itu, Sangkuni digambarkan berdiri di sisi Drestarata dengan postur penuh hormat, namun di balik senyum liciknya, ia adalah dalang dari segala intrik yang menghancurkan Hastinapura. Ia mewakili figur dalam dunia politik yang piawai berbicara manis, tetapi diam-diam menyulut kehancuran.
Pesan Moral dalam “Tuding Tujuh”
Melalui karya ini, Sekaa Teruna Yowana Samhita Dharma ingin menyampaikan pesan bahwa kekuasaan yang diperoleh dengan tipu daya dan keserakahan tidak akan bertahan lama. Seperti dalam Mahabharata, pertarungan antara dharma (kebenaran) dan adharma (ketidakbenaran) akan selalu ada.
Di dunia nyata, banyak pemimpin yang terjebak dalam kebutaan moral, anak muda yang tergiur kekuasaan tanpa memahami tanggung jawabnya, serta penasihat yang dengan lihai membelokkan arah sejarah demi kepentingan pribadi. “Tuding Tujuh” menjadi pengingat bahwa setiap keputusan yang diambil tanpa keadilan hanya akan membawa kehancuran bagi individu, keluarga, hingga negara.
Sebagai bagian dari rangkaian perayaan Nyepi, pawai ogoh-ogoh seperti “Tuding Tujuh” bukan sekadar hiburan, tetapi juga refleksi terhadap kehidupan dan nilai-nilai yang harus dijaga dalam masyarakat. Keadilan mungkin bisa tertunda, tetapi pada akhirnya, ia akan menemukan jalannya. (jk)