
DENPASAR, Nikiberitabali.com — Komitmen Puri Agung Puri Agung Jro Kuta dalam melestarikan budaya dan spiritualitas Bali kembali terbukti. Minggu (20/7/2025), puri yang berada di jantung Kota Denpasar ini menggelar Karya Angasti Puja Atma Wedana Maligia, dengan salah satu rangkaian utamanya yakni metatah (mepandes) massal yang diikuti 234 pemilet dari Denpasar maupun luar kota. Sementara dari Angge Puri atau dari Puri Agung Jro Kuta sendiri ada 6 orang yang ikut mepandes.
Prosesi penuh kekhidmatan ini sekaligus menjadi wujud nyata peran puri sebagai payung budaya dan pelindung bagi masyarakat di empat banjar sekitar: Banjar Balun, Banjar Belong, Banjar Panti, dan Banjar Gerenceng.
Dalam upacara yang sarat makna ini, Ida Bagus Rai Wijaya Mantra, anggota DPD RI yang juga tokoh spiritual, didaulat sebagai sangging pertama untuk secara simbolis memimpin prosesi metatah. Di sela-sela kegiatan, ia menyampaikan apresiasinya atas inisiatif Puri Agung Puti Jro Kuta yang bukan hanya menjaga adat, tetapi juga meringankan beban masyarakat.
“Biaya metatah jika dilakukan sendiri bisa mencapai belasan juta rupiah. Dengan metatah massal ini, masyarakat bisa sangat menghebat, namun tetap dalam prosesi yang suci dan lengkap,” ujar Rai Mantra.
Metatah sendiri merupakan upacara penyucian diri bagi umat Hindu yang memiliki makna filosofis mendalam, yaitu mengikis enam sifat buruk manusia (sad ripu: kama, loba, kroda, mada, moha, matsarya) serta mempersiapkan seseorang memasuki kedewasaan secara lahir dan batin.
Ketua panitia karya, I Gusti Ngurah Bagus Manu Raditya, menyampaikan bahwa karya ini sekaligus menjadi pesan moral bagi generasi muda di tengah arus globalisasi.
“Kami ingin puri tetap menjadi pelindung spiritual dan budaya. Melalui karya ini, kita semua diingatkan untuk kembali menapaki jalan dharma, dengan selalu menjalin komunikasi dengan para semeton maupun masyarakat sekitar puri,” tuturnya.
Warga dan pemilet menyambut positif penyelenggaraan karya massal ini. Selain membantu dari sisi biaya, gotong-royong dalam karya juga menguatkan rasa kebersamaan tanpa mengurangi kesucian upacara.
Rangkaian Karya Angasti Puja Atma Wedana ini pun menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali peran puri sebagai pusat adat, spiritual, dan budaya yang terus relevan di tengah perubahan zaman. (jk)