
TABANAN, Nikiberitabali.com – Siapa sangka, lebah mungil tanpa sengat ini bisa jadi ladang cuan sekaligus penyelamat lingkungan. Di Desa Wanasari, Tabanan, Kelompok Tani (Poktan) Wana Kelo sukses membudidayakan lebah klanceng atau Trigona yang menghasilkan madu berkualitas tinggi—dijual hingga Rp200 ribu per botol.
Ketua Poktan, Putu Nurata, bercerita bahwa setiap anggota punya 15–20 sarang lebah, sementara ia sendiri memelihara 50 sarang di rumah. “Permintaan madu klanceng terus ada, karena khasiatnya dipercaya bagus buat daya tahan tubuh,” ujarnya.
Madu dijual dalam dua ukuran: botol kecil seharga Rp100 ribu dan botol besar Rp200 ribu. Uniknya, mereka juga menanam tanaman hias seperti air mata penganten, santos, dompia, dan batavia. Selain mempercantik lingkungan, tanaman ini juga jadi sumber pakan alami lebah.
Budidaya ini sempat dikunjungi langsung Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, saat acara Bungan Desa ke-59. Lokasinya gampang ditemukan—tepat di belakang Kantor Desa Wanasari.
Menurut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan, I Made Subagia, usaha lebah klanceng punya masa depan cerah. “Bukan cuma menambah pendapatan petani, lebah juga penting buat penyerbukan tanaman. Kami siap dampingi supaya produk Wanasari bisa tembus pasar lebih luas,” katanya.
Tahun lalu, Pemerintah Desa Wanasari bahkan menggelar bimbingan teknis khusus, mengundang ahli dari Dinas Pertanian untuk berbagi tips perawatan dan strategi pemasaran. Tujuannya jelas: membuat madu klanceng Wana Kelo makin manis—di lidah, di pasar, dan di kantong petani. (jk)