Hari Suci Saraswati: Makna, Tradisi, dan Mitos Larangan Membaca Buku

RedaksiSeputar BaliBudaya08/02/2025163 Views

Denpasar, Nikiberitabali.com – Umat Hindu di Bali merayakan Hari Suci Saraswati sebagai hari turunnya ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Perayaan ini jatuh setiap Sabtu Umanis Wuku Watugunung dalam kalender Bali, yang disambut dengan penuh khidmat di pura, sekolah, hingga rumah-rumah. Namun, di balik sakralnya perayaan ini, ada satu mitos yang sering diperdebatkan, yakni larangan membaca buku pada hari Saraswati. Apakah benar atau sekadar kepercayaan turun-temurun?

Makna Hari Saraswati

Hari Saraswati didedikasikan untuk Dewi Saraswati, dewi ilmu pengetahuan, seni, dan kebijaksanaan. Dalam perayaan ini, umat Hindu menghaturkan persembahan kepada buku, lontar, dan alat tulis sebagai simbol penghormatan terhadap ilmu pengetahuan. Sejak pagi, pelajar dan akademisi melakukan persembahyangan di sekolah-sekolah, perpustakaan, hingga tempat-tempat belajar lainnya.

Bagi masyarakat Bali, ilmu pengetahuan memiliki peran penting dalam kehidupan. Oleh karena itu, Hari Saraswati menjadi momen untuk bersyukur atas berkah ilmu dan berjanji untuk menggunakannya dengan bijak demi kebaikan bersama.

Benarkah Tidak Boleh Membaca Buku di Hari Saraswati?

Salah satu mitos yang berkembang dalam masyarakat adalah larangan membaca buku pada hari Saraswati. Kepercayaan ini berasal dari tradisi bahwa di hari Saraswati, semua kitab suci dan buku ilmu pengetahuan sedang disucikan. Oleh karena itu, ada anggapan bahwa membaca atau belajar pada hari tersebut dianggap kurang menghormati makna perayaan.

Namun, secara filosofis, tidak ada aturan tertulis dalam lontar atau kitab suci Hindu yang melarang membaca buku di hari Saraswati. Tokoh spiritual dan akademisi Hindu di Bali menyatakan bahwa makna sesungguhnya dari perayaan ini adalah menghormati ilmu pengetahuan, bukan melarang penggunaannya.

Yang terpenting adalah bagaimana kita menggunakan ilmu pengetahuan dengan benar dan bertanggung jawab. Tidak ada larangan absolut untuk membaca atau belajar pada hari Saraswati, tetapi lebih pada refleksi dan penghormatan terhadap ilmu itu sendiri.

Tradisi yang Berlanjut Hingga Malam Pangredanan

Perayaan Saraswati tidak berhenti pada siang hari. Di malam harinya, umat Hindu melanjutkan dengan Pangredanan Saraswati, sebuah momen refleksi di mana umat dianjurkan untuk menghindari aktivitas membaca atau menulis dan lebih fokus pada meditasi serta doa.

Esok harinya, yaitu Minggu Pon Wuku Sinta, umat merayakan Banyu Pinaruh, tradisi menyucikan diri dengan mandi di laut, sungai, atau sumber mata air. Tradisi ini melambangkan pembersihan diri sebelum menuntut ilmu kembali di hari-hari berikutnya.

Kesimpulan: Mitos atau Fakta?

Larangan membaca buku pada hari Saraswati lebih merupakan tradisi turun-temurun daripada aturan mutlak dalam ajaran Hindu. Maknanya lebih kepada menghormati ilmu pengetahuan, bukan membatasi penggunaannya. Justru, Hari Saraswati seharusnya menjadi momentum untuk semakin menghargai dan menggunakan ilmu dengan bijak.

Seiring perkembangan zaman, pemahaman masyarakat terhadap perayaan Saraswati juga semakin luas. Yang terpenting, perayaan ini tetap menjadi pengingat bahwa ilmu pengetahuan adalah cahaya kehidupan yang harus dijaga dan digunakan dengan penuh tanggung jawab. (jk)

1 Votes: 1 Upvotes, 0 Downvotes (1 Points)

Loading Next Post...