Adegan dramatis dalam pementasan Gambuh ‘Diah Santun’ oleh Paguyuban Seniman Kota Denpasar di Kalangan Ratna Kanda, Sabtu (28/6/2025).

Diah Santun dan Nafas Perempuan dalam Gambuh yang Hampir Terlupa

RedaksiSeputar BaliBudaya28/06/2025102 Views

DENPASAR, Nikiberitabali.com – Denting gamelan Gambuh yang sakral menggema dari panggung Kalangan Ratna Kanda, Sabtu malam (28/6/2025). Gemuruh suara gamelan berpadu dengan lantunan tembang berbahasa Kawi membawa penonton hanyut ke masa lampau, menyelami kisah perjuangan seorang perempuan yang melawan keserakahan dan ketidakadilan.

Adalah “Diah Santun”, garapan seni klasik dari Paguyuban Seniman Kota Denpasar yang dipersembahkan dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII Tahun 2025. Pementasan ini tak sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan—mengajak penonton merenungkan nilai-nilai kebenaran, kesetiaan, dan keberanian.

Kisah Cinta Berujung Duka dan Dendam

Cerita bermula dari Kerajaan Wiraksa Negara, di mana sang raja berambisi mempersunting Diah Ratna Ningrum, putri cantik dari Kerajaan Dwipa Negari. Lamaran itu ditolak dengan halus, lantaran sang putri telah dijodohkan dengan pangeran dari Kerajaan Jenggala.

Amarah raja meledak. Ia melancarkan serangan brutal yang menewaskan Raja Dwipa Negari dan membuat sang permaisuri tersungkur tak berdaya akibat penyiksaan.

Dari bara dendam itu, lahirlah keberanian Diah Santun, sosok perempuan yang menolak tunduk pada kesewenang-wenangan. Ia memohon restu di Pura Kahyangan Dalem, memohon kutukan wabah melanda Kerajaan Wiraksa Negara.

Namun sang raja tak tinggal diam. Ia mengutus Patih Sudarsana untuk menghabisi Diah Santun. Pertempuran sengit tak terhindarkan. Darah tertumpah. Namun keberanian Diah Santun melampaui kekuatan bala tentara kerajaan. Ia bangkit, membela kehormatan leluhur dan kebenaran.

“Cerita ini menggambarkan bahwa perempuan bukan sekadar pelengkap dalam sejarah. Diah Santun adalah simbol kekuatan, kesetiaan, dan kehormatan,” ungkap Anak Agung Made Anom Wira Kusuma, S.Pd., M.Dok, selaku Pembina Tari.

Gambuh, Warisan Agung Bali yang Hampir Punah

Pementasan ini menggunakan format Gambuh, seni pertunjukan tari-drama paling tua di Bali yang berkembang sejak abad ke-15. Gambuh dikenal dengan ciri khas dialognya yang menggunakan bahasa Kawi, iringan musik yang berat namun sakral, serta tata gerak yang lembut, detail, namun penuh makna.

“Gambuh bukan sekadar tontonan, ini adalah kitab hidup orang Bali. Di dalamnya ada pelajaran tentang kehidupan, tata krama, dan hubungan manusia dengan alam serta spiritualitas,” jelas Anak Agung Made Anom Wira Kusuma.

Kolaborasi Generasi Muda dan Senior

Garapan “Diah Santun” melibatkan kolaborasi apik para maestro dan seniman muda Kota Denpasar. Pembinaan seni musik ditangani oleh Kadek Agus Dwi Sudiartha, S.Sn., M.Sn., sementara koordinasi keseluruhan dipimpin oleh I Ketut Warjana, SK.

Penonton Terhipnotis

Hembusan angin dan terik matahari menjelang sore di Kalangan Ratna Kanda seolah membawa penonton ke tengah medan peperangan antara kebenaran dan keserakahan. Tiap gerakan penari, denting gamelan, hingga lantunan tembang berhasil membius ratusan pasang mata yang menyaksikan.

“Ini luar biasa. Saya seperti tidak sedang menonton, tetapi ikut masuk ke dalam ceritanya,” ujar salah satu penonton, I Gusti Ayu Putu Mertasari, seusai pertunjukan.

Pementasan “Diah Santun” menegaskan bahwa seni klasik Bali seperti Gambuh bukan sekadar warisan, tetapi nafas yang terus menghidupkan identitas budaya di tengah gempuran zaman modern. (jk)

2 Votes: 2 Upvotes, 0 Downvotes (2 Points)

Loading Next Post...