Suasana Piodalan di Alaya Resort Ubud, Rabu (7/10/2026).

Alaya Resort Ubud Gelar Piodalan, Perkuat Komitmen Lestarikan Budaya Bali

RedaksiSeputar Bali, Budaya07/10/202635 Views

GIANYAR, Nikiberitabali.com – Alaya Resort Ubud menggelar upacara Piodalan pada Rabu, 7 Oktober 2026, di area Padmasana. Upacara ini menjadi momentum bagi manajemen dan karyawan untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus menjaga keharmonisan serta kelestarian budaya Bali.

Rangkaian Piodalan telah dimulai sejak 5 Oktober melalui ritual Nunas Tirta di sejumlah pura di kawasan Padang Tegal dan Ubud Sentral, di antaranya Pura Desa dan Puseh, Pura Melanting, serta Pura Gunung Lebah. Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan persiapan pada 6 Oktober yang melibatkan karyawan dari berbagai departemen sebagai Pengempon sembilan pelinggih di lingkungan resort.

Persiapan juga diisi kegiatan Mereresik, lomba Mayasan Pelinggih, dan merangkai Gebogan menggunakan buah-buahan lokal serta bahan alami. Tradisi tersebut telah dijalankan Alaya Resort Ubud sejak 2017 dan menjadi bagian dari penerapan filosofi Tri Hita Karana, khususnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.

Puncak Piodalan diawali dengan ritual Mecaru dan dilanjutkan persembahyangan bersama pada sore hari. Manajemen, karyawan, dan undangan mengikuti prosesi dengan mengenakan pakaian adat Bali. Tari Rejang Renteng yang dipersembahkan oleh para karyawan juga menjadi bagian dari rangkaian upacara.

Chief Operating Officer Alaya Hotels & Resorts, Dewi Mas, mengatakan Piodalan merupakan momentum untuk bersyukur sekaligus menjaga warisan budaya Bali. “Piodalan merupakan momen berharga bagi seluruh tim kami untuk sejenak berhenti dari rutinitas, mengucap syukur, dan bersama-sama menjaga warisan budaya yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali,” ujarnya.

Dewi Mas mengatakan, sejak pemulihan pariwisata pada Maret 2022, Alaya Resort Ubud mencatatkan performa bisnis yang positif. Piodalan kali ini merupakan Odalan Agung ke-8 yang digelar sejak pandemi dan secara konsisten dilaksanakan mengikuti siklus wuku, yakni setiap enam bulan kalender Bali atau sekitar tujuh bulan kalender Masehi. “Ini adalah bentuk terima kasih kami kepada alam di Alaya, Ubud, dan Bali atas rezeki luar biasa yang diberikan sejak recovery COVID-19,” katanya.

Selain karyawan, sejumlah wisatawan yang menginap juga diberi kesempatan menyaksikan prosesi tersebut dengan tetap menghormati tata cara dan konteks budaya Bali. Wisatawan asal Belanda, Ja En, mengaku terkesan dengan upacara tersebut. “Sangat spesial bagi saya dan juga istri saya untuk melihat ini, merasakannya, dan memahami apa yang sedang terjadi. Ini sangat menarik,” ujarnya. Melalui Piodalan, Alaya Resort Ubud menegaskan komitmennya menghadirkan hospitality yang berakar pada budaya lokal sekaligus ikut menjaga tradisi Bali. (nw)

0 Votes: 0 Upvotes, 0 Downvotes (0 Points)

Loading Next Post...