Para seniman Komunitas Seni Bangkal Ganas dari Banjar Sakenan Belodan, Desa Delod Peken, Tabanan, menampilkan ritual Nangluk Merana dalam Parade Nglawang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2025 di seputaran Taman Budaya Denpasar, Kamis (17/7/2025).

Bangkal Ganas Tampilkan Ritual Nangluk Merana di PKB XLVII

RedaksiBudayaSeputar Bali17/07/2025243 Views

DENPASAR, Nikiberitabali.com — Suasana mistis dan penuh makna menyelimuti seputaran Taman Budaya Denpasar pada Kamis (17/7) sore, ketika Komunitas Seni Bangkal Ganas dari Banjar Sakenan Belodan, Desa Delod Peken, Kecamatan Tabanan, tampil sebagai duta Kabupaten Tabanan dalam Utsawa (Parade) Nglawang Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII.

Membawakan garapan bertajuk Nangluk Merana, komunitas ini menyuguhkan kisah penuh pesan tentang perjuangan para petani mempertahankan sawah warisan leluhur di tengah gempuran hama dan godaan kapitalisasi lahan.

Ketua Komunitas Seni Bangkal Ganas, I Gede Agustina Yoga Putra, S.Pd., menjelaskan, Nangluk Merana berarti menaklukkan atau mengendalikan musibah. Dalam tradisi Hindu Bali, ritual ini biasa dilaksanakan untuk memohon keselamatan dari serangan hama, wabah penyakit, atau bencana alam yang mengancam kehidupan masyarakat.

Garapan ini berkisah tentang para petani yang dilanda dilema. Di satu sisi mereka harus menjaga tanah warisan keluarga, di sisi lain mereka tergiur tawaran para calo dan investor yang siap membeli lahan mereka dengan harga tinggi. Di tengah keputusasaan itu, pekaseh (pimpinan subak) menghadap Ida Cokorda Tabanan untuk memohon restu menggelar yadnya Nangluk Merana, sebuah upacara yang telah lama mereka lupakan. Prosesi dilaksanakan dengan ngelawang tapakan dan mepinunas di Pura Pakendungan, memohon agar serangan hama segera mereda. Konon, begitu Ida Cokorda tedun (turun) ke sawah, diyakini hama tikus pun akan hilang.

Lewat penampilan ini, Komunitas Seni Bangkal Ganas ingin menyampaikan pesan penting tentang nilai gotong royong, keyakinan pada kekuatan adat dan yadnya, serta pentingnya mempertahankan warisan budaya dan alam Bali dari ancaman modernisasi yang serba instan.

“Kami berharap masyarakat, khususnya generasi muda, bisa kembali menghargai upacara-upacara seperti ini. Jangan sampai sawah hanya jadi kenangan karena kita lalai menjaga adat,” tutup Yoga Putra.

Parade Nglawang sendiri menjadi salah satu agenda paling diminati di PKB karena menghadirkan kreativitas seni tradisi yang sarat nilai spiritual, sekaligus sebagai media kritik sosial dan refleksi budaya.

Kehadiran duta Tabanan tahun ini menjadi bukti komitmen para seniman muda dalam merawat seni dan tradisi Bali agar tetap ajeg di tengah arus zaman. (jk)

Loading Next Post...