Sekaa Gamelan Cudawara dari Banjar Tegalalang, Bangli, tampil memukau dalam ajang Wimbakara Taman Penasar PKB XLVII 2025.

Tradisi Yadnya yang Kebablasan: Kritik Tajam dari Sekaa Cudawara

RedaksiBudayaSeputar Bali30/06/2025149 Views

BANGLI, Nikiberitabali.com – Sorotan tajam terhadap budaya yadnya yang dinilai mulai kehilangan esensinya mencuat dari panggung Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVII 2025. Sekaa Gamelan Cudawara dari Banjar Tegalalang, Kelurahan Kawan, Kecamatan Bangli, tampil berani dalam Wimbakara (Lomba) Taman Penasar, Senin (30/06/2025), menyuguhkan kritik sosial yang menggugah kesadaran kolektif masyarakat Bali.

Lewat pementasan ini Sekaa Gamelan Cudawara mengangkat realitas sosial yang jarang disorot: fenomena upacara adat yang kian megah, namun kerap menjadi beban ekonomi bagi masyarakat. Alih-alih sekadar tradisi spiritual, yadnya kini berisiko menjelma jadi ajang gengsi yang melampaui batas kemampuan krama.

Narasi yang Menggugah: Antara Tradisi dan Kenyataan

Cerita bermula di sebuah desa di Bangli yang tengah mempersiapkan yadnya agung di Pura Desa. Semangat gotong royong mewarnai persiapan, namun di baliknya tumbuh kegelisahan. Seorang warga yang baru kembali dari perantauan membawa pandangan kritis. Dengan latar belakang intelektual dan kepekaan sosial, ia mempertanyakan: apakah yadnya sebesar ini masih relevan dengan kondisi ekonomi masyarakat?

Pertanyaan itu memicu pertentangan sengit. Kelihan adat merasa tersinggung, dan ketegangan pun memuncak. Dua kutub pandangan bertubrukan: menjaga tradisi leluhur atau menyesuaikannya dengan realitas zaman?

Ketegangan baru mereda saat seorang mangku datang menengahi. Ia mengingatkan bahwa makna yadnya bukan terletak pada megahnya upacara, melainkan pada ketulusan niat dan semangat kebersamaan. Sebuah pengingat bahwa yadnya semestinya menjadi sarana spiritual, bukan beban sosial.

Kritik Sosial yang Dibungkus Estetika Budaya

Karya yang ditulis oleh I Nengah Dwija Badranaya, sekaligus dibina langsung olehnya, ini tak sekadar suguhan artistik. Ia menjadi cermin keras bagi masyarakat Bali: apakah kita masih memaknai yadnya secara spiritual atau justru terseret pada kompetisi simbolik yang membebani?

“Yadnya adalah ajaran dharma. Tapi pelaksanaannya harus realistis, proporsional, dan tidak memberatkan. Jangan sampai niat suci malah menyisakan penderitaan,” ujar Dwija.

Di bawah arahan koreografer Dega Pande, pentas ini memadukan nuansa klasik Bali dengan lapisan kritik sosial yang subtil namun kuat. Tata rias dan kostum garapan Indah Makeup Bali memperkuat atmosfer sakral sekaligus dramatik, menjadikan pertunjukan ini bukan hanya estetis, tetapi juga menggugah nurani.

Refleksi Kritis untuk Generasi Bali Kini

Lebih dari sekadar tontonan, pementasan ini adalah ajakan untuk berhenti sejenak dan merenung: Apakah yadnya masih kita maknai sebagai persembahan tulus atau sudah menjadi ajang formalitas dan beban sosial?

Dukungan penuh dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bangli, serta para tokoh adat setempat, menegaskan pentingnya ruang seni sebagai media edukasi dan kritik sosial. Bahwa di tengah kemegahan tradisi, suara kritis tetap harus mendapat tempat.

“Tradisi tak boleh jadi beban. Ia harus jadi cahaya, bukan bayangan,” begitulah kira-kira pesan mendalam dari Sekaa Gamelan Cudawara malam itu. (jk)

Loading Next Post...