
Jembrana, Nikiberitabali.com – Ni Putu Hadomi Widiasih, S.Pd. Gr, (33), seorang guru Sekolah Dasar Negeri 2 Dauhwaru, Jembrana, tidak hanya mendidik di dalam kelas, tetapi juga aktif memberikan inspirasi melalui aksi sosial, pelestarian lingkungan, dan kreativitas sebagai konten kreator. Sosok yang pernah bertugas sebagai Guru Garis Depan (GGD) di daerah terpencil Pulau Rote, NTT, dan Bima, NTB, ini kini dikenal sebagai pribadi yang peduli lingkungan sekaligus berkomitmen melestarikan budaya Bali melalui konten edukatif.
Hadomi memiliki misi besar untuk menjaga bahasa Bali agar tetap ajeg dan lestari. Lewat video-video pendek yang ia unggah di media sosial, ia mengajarkan bahasa Bali dengan gaya santai dan menarik, menggunakan dialek khas Negaroa. “Saya ingin generasi muda Bali tetap bangga dengan bahasa ibu mereka. Walaupun saya bukan guru bahasa Bali, saya memilih tema ini karena bahasa Bali adalah identitas yang harus dijaga,” ujar Hadomi saat ditemui di Rumah Belajar Bersih-Bersih Bali Jembrana, Selasa (28/1/2025).
Proses pembuatan kontennya dilakukan dengan sederhana namun penuh makna. Ia sering melibatkan murid-muridnya saat jeda istirahat di sekolah, memastikan tidak mengganggu waktu belajar di kelas. Konten berisi penggunaan bahasa Bali sehari-hari dengan logat khas Negaroa, yang menurut Hadomi memiliki daya tarik unik.
“Contoh sederhana, kalau bahasa Bali biasa bilang ‘tutup pintu’, dalam logat Negaroa menjadi ‘ubeta jelana’. Logat ini khas dan menarik, sehingga lebih mudah diingat anak-anak,” jelasnya sambil tersenyum.
Hadomi juga memanfaatkan hasil dari kegiatannya sebagai konten kreator untuk mendukung aksi-aksi sosialnya. “Astungkara, reward dari ngonten ini saya gunakan untuk mendanai kegiatan sosial berikutnya,” tambahnya.
Selain menginspirasi lewat media sosial, Hadomi adalah leader di Komunitas Bersih-Bersih Bali Jembrana. Komunitas ini aktif melakukan aksi pembersihan sampah plastik di pantai, sungai, dan area publik lainnya di Jembrana. Ia juga rutin mengadakan kegiatan edukasi lingkungan untuk anak-anak di Rumah Belajar Bersih-Bersih Bali.
“Anak-anak kami ajak bersih-bersih sekaligus kami latih untuk mengelola bank sampah, membuat eco enzyme dari sisa buah dan sayur, hingga karya ecobrik dari plastik. Ini agar mereka sadar pentingnya menjaga lingkungan sejak dini,” ungkapnya.
Hadomi dan komunitasnya juga sering mengadakan aksi sosial seperti membagikan sembako kepada masyarakat kurang mampu. Semua kegiatannya berakar pada nilai-nilai peduli terhadap sesama dan lingkungan, yang ia tanamkan tidak hanya pada murid-muridnya, tetapi juga pada masyarakat luas.
Ni Putu Hadomi Widiasih adalah contoh nyata bagaimana seorang guru bisa menjadi motor penggerak perubahan positif di komunitas. Tidak hanya berperan sebagai pendidik di sekolah, ia juga menjadi inspirasi dalam pelestarian budaya dan lingkungan, membuktikan bahwa aksi kecil bisa berdampak besar. (aa)