Peserta Bali Tourism Run 2026 melintasi kawasan DTW Jatiluwih, Tabanan, Minggu (21/6/2026).

Bali Tourism Run Jadi Motor Promosi Destinasi Wisata Unggulan Bali

RedaksiOlahragaSeputar BaliPariwisata22/06/2026170 Views

TABANAN, Nikiberitabali.com – Kesuksesan penyelenggaraan Bali Tourism Run 2026 di kawasan wisata Jatiluwih, Tabanan, mendorong munculnya gagasan agar ajang sport tourism tersebut digelar secara bergilir di berbagai destinasi wisata unggulan di Bali.

Sekretaris Daerah (Sekda) Bali Dewa Made Indra mengatakan konsep perpindahan lokasi ini sejalan dengan upaya memperkenalkan lebih banyak daya tarik wisata Bali kepada wisatawan domestik maupun mancanegara menjelang peringatan 100 Tahun Pariwisata Bali pada 2027.

Menurut Dewa Made Indra, usulan tersebut pertama kali disampaikan Ketua Asita (Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia) Bali. Salah satu lokasi yang disebut berpotensi menjadi tuan rumah berikutnya adalah kawasan suci dan wisata Besakih di Kabupaten Karangasem.

“Ide dari Ketua Asita, ajang berikutnya di Besakih. Nanti kita bahas lagi. Panduannya sudah diberikan Pak Gubernur Bali yaitu kita harus bergerak dari DTW satu ke DTW yang lain, mulai dari DTW unggulan yang merepresentasikan harmoni antara manusia, budaya, dan alam,” ujarnya di sela kegiatan Bali Tourism Run, Minggu (21/6/2026).

Ia menilai Bali memiliki banyak destinasi wisata yang menarik, namun belum semuanya dikenal luas oleh wisatawan. Karena itu, event olahraga yang dipadukan dengan promosi pariwisata dinilai menjadi cara efektif untuk memperkenalkan wajah Bali yang lebih beragam sekaligus memperluas sebaran kunjungan wisatawan.

“Melalui Bali Tourism Run ini kita perkenalkan kepada wisatawan, baik mancanegara maupun wisatawan domestik. Astungkara ke depan akan menjadi lebih baik,” katanya.

Ajang lari santai sejauh lima kilometer yang menjadi pembuka rangkaian menuju 100 Tahun Pariwisata Bali tersebut berhasil menarik lebih dari 1.700 peserta. Antusiasme tinggi para pelari menunjukkan bahwa sport tourism kini menjadi salah satu tren yang mampu menarik minat masyarakat sekaligus mendukung promosi destinasi.

Jatiluwih dipilih sebagai lokasi perdana karena dinilai merepresentasikan konsep pariwisata Bali yang berkualitas dan berkelanjutan. Hamparan sawah terasering yang diakui UNESCO menjadi simbol keharmonisan hubungan manusia, alam, dan budaya yang selama ini menjadi kekuatan utama pariwisata Bali.

“Kita harus terus kreatif menciptakan event pariwisata baru, salah satunya lari karena sedang tren. Kita ingin mengirim pesan bahwa inilah pariwisata Bali, tidak sekadar mengejar keuntungan ekonomi, tetapi juga tetap menempatkan budaya dan lingkungan sebagai fondasi utama,” tegas Dewa Made Indra. (jk)

Loading Next Post...