Dr. dr. Anak Ayu Sri Wahyuni SpKj. Psikiater

Psikiater Bali Ingatkan Bahaya Kriminalitas Online pada Anak

RedaksiSeputar BaliKesehatan28/08/202548 Views

DENPASAR, Nikiberitabali.com – Internet dan media sosial sekarang sudah jadi bagian dari keseharian anak dan remaja. Dari belajar, bermain, sampai bersosialisasi, hampir semuanya dilakukan lewat gawai. Tapi di balik semua kemudahan itu, ada sisi gelap dunia digital yang perlu diwaspadai: anak-anak bisa jadi korban sekaligus pelaku kriminalitas online.

Menurut Dr. dr. Anak Ayu Sri Wahyuni SpKj., psikiater sekaligus Ketua Lembaga Lentera Anak Bali (LAB), pesatnya pertumbuhan pengguna internet di Indonesia membuat anak-anak semakin rentan terhadap bahaya digital. Data terbaru menunjukkan, mayoritas anak usia 5 tahun ke atas di Indonesia sudah aktif mengakses internet, dan hampir 90 persennya menggunakan media sosial.

“Internet itu bagaikan dua sisi mata uang. Bisa jadi sarana belajar dan kreativitas, tapi juga bisa menjerumuskan jika tidak ada pendampingan,” jelas dr. Ayu.

Ancaman yang Mengintai Anak di Dunia Digital

1. Cyberbullying (Perundungan Online)

Anak bisa jadi korban, tapi bisa juga jadi pelaku. Korban cyberbullying berisiko mengalami depresi, sementara pelaku biasanya punya masalah perilaku (conduct disorder). Karena itu, peran orang tua sangat penting untuk mengawasi aktivitas anak di media sosial.

2. Game Online dan Judi Online

Game online sering jadi “dunia kedua” bagi anak. Seru sih, tapi bisa bikin kecanduan. Lebih bahaya lagi, banyak game yang nyelipin fitur judi online. Anak yang kecanduan biasanya jadi gampang cemas, susah konsentrasi, dan menarik diri dari dunia nyata.

3. Online Grooming dan Sexting

Modus predator digital makin canggih. Mereka pura-pura jadi teman sebaya, lalu perlahan menjebak anak lewat obrolan yang berujung eksploitasi seksual. Di Indonesia, sekitar 2% anak usia 12–17 tahun pernah jadi korban pelecehan seksual online. Angka ini setara dengan ratusan ribu anak!

4. Paparan Pornografi dan Eksploitasi Seksual

Konten porno mudah sekali muncul di media sosial, bahkan tanpa dicari. Dampaknya besar: anak bisa kecanduan, punya persepsi keliru tentang seks, sampai rentan dieksploitasi. Ada kasus anak yang jadi korban, tapi ada juga yang tergelincir jadi konsumen.

Dampaknya Nggak Main-Main

Menurut dr. Ayu, efek psikologis dari kriminalitas online bisa sangat serius. Anak bisa mengalami depresi, kecemasan, kehilangan rasa percaya diri, hingga trauma berkepanjangan.

“Anak tidak boleh dibiarkan menghadapi dunia digital sendirian. Orang tua harus jadi teman ngobrol, pendamping, dan pengawas. Sekolah dan masyarakat juga harus ikut berperan,” tegasnya.

Artikel ini baru bagian pertama. Di tulisan berikutnya akan dibahas lebih dalam tentang kekerasan seksual berbasis digital dan cara mencegahnya. Stay tuned! (jk)

Loading Next Post...