
Denpasar, Nikiberitabali.com – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, ada satu pemandangan yang sering kali luput dari perhatian banyak orang: rambu-rambu jalan yang kotor, penuh coretan, dan tertutup stiker. Namun, bagi Lingga, seorang siswa kelas 9 di SMP Dwijendra Denpasar, pemandangan itu bukan sekadar gangguan visual. Baginya, itu adalah panggilan untuk bertindak.
Tanpa menunggu perintah atau sorotan, Lingga berinisiatif sendiri untuk membersihkan rambu-rambu jalan dari aksi yang mengganggu itu. Setiap akhir pekan, ia mengayuh sepedanya mengelilingi kota Denpasar, membawa amplas sebagai senjata utama dalam perjuangannya menjaga keindahan lingkungan.
Aksi Kecil dengan Dampak Besar
Saat ditemui di perempatan Jalan Gajah Mada – Sumatera, Denpasar, Lingga mengungkapkan keprihatinannya.
“Sayang sekali kalau rambu-rambu ini kotor dan tertutup stiker. Selain merusak pemandangan, ini juga bisa mengganggu pengguna jalan. Rambu ini penting, bukan sekadar pajangan,”ujarnya sambil menggosok sebuah rambu dengan telaten, Minggu (16/02/2025) pagi.
Banyak orang yang mungkin sekadar mengeluh atau mengabaikan, tetapi tidak bagi Lingga. Ia tidak menunggu orang lain turun tangan. Dengan penuh semangat, ia membersihkan setiap rambu dan tiang yang ia temui, menjadikannya kembali bersih dan fungsional.
Melawan Apatisme dengan Aksi Nyata
Di usianya yang masih remaja, Lingga memberikan contoh nyata bahwa kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya tugas pemerintah atau pihak tertentu, melainkan tanggung jawab bersama.
“Saya lakukan ini sambil berolahraga di Minggu pagi. Sekalian beraktivitas, sekalian membuat kota jadi lebih bersih,” katanya dengan senyum tulus.
Aksi ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Dengan membersihkan rambu-rambu jalan, ia tidak hanya menjaga estetika kota, tetapi juga memastikan bahwa petunjuk jalan tetap bisa terlihat jelas oleh pengguna jalan.
Menginspirasi Generasi Muda
Di saat banyak remaja lebih memilih menghabiskan waktu dengan gawai atau berkumpul tanpa tujuan, Lingga memilih untuk bertindak. Ia membuktikan bahwa satu orang saja bisa membawa perubahan, sekecil apa pun langkah yang diambil.
Semangatnya ini patut diapresiasi dan dijadikan inspirasi bagi generasi muda lainnya. Jika satu anak SMP saja bisa menunjukkan kepedulian yang begitu besar terhadap lingkungan, bayangkan dampak luar biasa yang bisa terjadi jika lebih banyak orang mengikuti jejaknya.
Aksi Lingga adalah pengingat bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dengan langkah besar. Kadang, cukup dengan sepasang tangan, selembar amplas, dan hati yang peduli, sebuah kota bisa menjadi lebih bersih dan lebih indah.
Apakah kita hanya akan menonton, ataukah kita akan ikut bergerak? (jk)